Ilustrasi anak perempuan kesepian.
JAKARTA: Masalah kesehatan mental di kalangan remaja Indonesia semakin menjadi perhatian. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan, satu dari tiga remaja mengalami masalah kesehatan mental yang signifikan, sehingga mendorong peluncuran program deteksi dini di sekolah.
Psikolog klinis Sulastry Pardede mengatakan, sekitar 50 persen gangguan jiwa sebenarnya mulai muncul sebelum seseorang berusia 14 tahun.
"Kurang lebih 2,45 juta remaja dalam 12 bulan terakhir mengalami gangguan jiwa berat," kata Sulastry dalam webinar First Aider Luka Psikologis di Sekolah SMP dan SMA di Jakarta, dikutip detikHealth, pekan lalu.
Menurut Sulastry, Generasi Z atau mereka yang lahir pada 1997 hingga 2012 menjadi kelompok yang rentan mengalami stres, overthinking, dan tekanan akibat media sosial.
Ia menjelaskan, remaja merupakan kelompok yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan mental karena berada pada fase pencarian jati diri. Pada masa tersebut, kondisi emosional cenderung lebih fluktuatif dan intens.
Selain itu, mereka juga menghadapi tekanan dari berbagai sisi, mulai dari lingkungan pertemanan, keluarga, tuntutan akademik, hingga paparan media sosial yang semakin besar.
Sulastry mengingatkan, sejumlah tanda depresi yang kerap luput dikenali, seperti perasaan sedih hampir setiap hari, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, mudah lelah, hingga tidak bertenaga.
Gejala tersebut juga dapat disertai gangguan pola makan maupun tidur, rasa gelisah atau justru bergerak lebih lambat dari biasanya, serta kesulitan berkonsentrasi.
"Ada juga mereka yang mengalami penurunan percaya diri, rasa tak berguna dan putus asa, hingga pikiran bunuh diri," jelasnya.
KEMENKES PERKUAT DETEKSI DINI DI SEKOLAH
Melihat tingginya angka gangguan kesehatan mental pada remaja, Kemenkes bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenkes meluncurkan buku dan pelatihan First Aider Luka Psikologis untuk membantu remaja mengenali tanda-tanda awal gangguan psikologis pada teman sebaya dan memberikan pertolongan pertama.
Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kemenkes Ida Gunadi Sadikin mengatakan, program tersebut merupakan salah satu respons atas meningkatnya kasus kesehatan mental pada anak dan remaja.
"Dengan adanya program ini, yaitu penerbitan bedah buku pertolongan pertama pada luka psikologis, tentunya ini adalah salah satu cara dari Kemenkes dan kami dari IDWP Kemenkes untuk menyikapi adanya peningkatan statistik anak-anak yang menderita kesehatan mental," kata Ida.
"Ini langkah nyata dari kami untuk ikut memerangi masalah kesehatan mental. Jadi, di Kemenkes bukan saja kesehatan fisik yang kita coba kurangi bebannya, tetapi kesehatan mental juga menjadi perhatian agar angka penderitanya tidak terus meningkat," lanjutnya.
Menurut Ida, program First Aider dinilai penting karena remaja umumnya lebih terbuka kepada teman sebaya dibandingkan kepada orang tua.
"Kalau pengalaman saya pribadi, anak saya lebih senang cerita dengan teman daripada cerita dengan orangtua. Karena itu, saya rasa dengan adanya First Aider, permasalahan kesehatan mental pada remaja bisa ditanggulangi lebih cepat," katanya.
Ia berharap teman sebaya dapat mengenali gejala awal gangguan kesehatan mental sehingga seseorang bisa memperoleh bantuan sebelum kondisinya semakin memburuk.
"Harapannya kesehatan mentalnya bisa lebih cepat diperbaiki sebelum terjadi lebih parah lagi ke depannya," imbuh Ida.
Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), mengatakan, gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja masih sering luput dari perhatian karena banyak orang menganggap masalah tersebut hanya dialami orang dewasa.
"Sering kali dikira anak-anak itu belum saatnya atau jarang mengalami gangguan mental. Tetapi ternyata tidak seperti itu. Kadang-kadang gangguan mental pada anak tidak mudah dideteksi sehingga perlu kepekaan dari orang tuanya," ujar Piprim dilansir IDN Times.
Menurut dia, pola asuh yang kurang tepat menjadi salah satu faktor yang dapat memicu gangguan kesehatan mental pada anak. Tekanan berlebihan dari orangtua, terutama terkait tuntutan prestasi akademik yang tidak sesuai kemampuan anak, dapat berdampak buruk terhadap kondisi psikologis mereka.
"Anaknya baru satu hari masuk sekolah, kemudian ibu mengatakan kecewa karena sepertinya tidak mungkin jadi juara kelas. Ini gambaran bagaimana tekanan dari orangtua sendiri bisa memengaruhi anak," lanjutnya.